Menghemat Biaya Operasi

SUASANA krisis seperti sekarang ini, membuat banyak orang berpikir ulang bagaimana menghemat uang bila ingin membelanjakan sesuatu. Bagi pemilik mobil, hal yang membuat keheranan adalah tingginya kenaikan harga suku cadang mobil. Hingga kini, kenaikan harga suku cadang sudah mencapai 2,5 kali lipat dibanding harga sebelum krisis. Memperbaiki bagian mobil yang rusak di bengkel, kini perlu bertanya dulu. Bila tidak, jangan kaget kalau Anda akan dibuat terheran-heran dan yang celaka, tidak siap untuk membayarnya.Belakangan santer dinyatakan, minyak bumi akan naik. Dan bila BBM naik, maka biaya perjalanan pun ikut naik. Maka, amat bijaksana bila mulai saat ini memelihara mobil agar tidak mengeluarkan biaya lebih banyak lagi. Atau, bila mau memperbaiki dan perlu penggantian suku cadang, bisa mencari kemungkinan yang paling ekonomis.
Beberapa hal berikut barangkali bisa membantu Anda menyikapi situasi yang sedang terjadi. Tentunya, amat bijaksana melakukan perawatan. Mempersiapkan mobil agar tidak boros bahan bakar, mencari suku cadang alternatif yang kualitasnya baik tetapi lebih murah dan sebagainya.
Selain itu, hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah cara mengemudi. Lebih sabar dan berhati-hati, bisa mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Bila terjadi kecelakaan atau menyenggol mobil lain, Anda pasti mengeluarkan biaya yang tidak kecil. Apalagi, kini biaya pengecatan amat mahal. Harga cat dulu Rp 25.000 per liter, kini bisa lebih dari
Rp 250.000 per liter.
Hemat bahan bakar
Lazimnya pemilik mobil yang kurang memahami seluk-beluk kendaraannya, hanya bisa menyampaikan keluhan bahwa mobil boros, mesin kurang enak dan sebagainya. Ciri-ciri mesin kurang bertenaga, ngoyo, ngelithik, dan panas, biasanya dikaitkan dengan mesin yang kurang beres, tidak efisien, dan boros bahan bakar. Maka pemilik mobil umumnya disarankan untuk mengambil menu Tune Up mesin. Menu ini memang ampuh bagi mobil yang menggunakan karburator, namun tidak demikian bagi mobil yang sudah menggunakan EFI, MPI, dan sebagainya.
Ternyata tune up pada mesin-mesin kuno seperti stel klep, stel platina, stel karburator sudah tidak perlu dilakukan lagi pada mobil-mobil berteknologi tanpa karburator. Tidak banyak hal yang dapat dilakukan pada mobil-mobil ini. Busi pun dibersihkan dan diganti pada 50.000 sampai 100.000 km. Dengan kata lain, makin sedikit pekerjaan yang dilakukan pada mobil tanpa karburator. Mobil- mobil dengan teknologi maju itu kini cukup dipelihara dengan lebih sering membersihkan saringan udara, mengganti saringan bensin (tanpa timah hitam) dan mengganti saringan oli setiap 10.000 km.
Meski demikian mesin-mesin itu perlu juga mendapat perawatan berkala dan sesekali diperiksa dengan peralatan tes. Semudah apa pun cara pemeliharaan pada mobil EFI, maupun mobil yang masih menggunakan karburator, proses tune up harus ditunjang perlengkapan memadai. Bagi pemilik mobil berkarburator, keandalan teknisi tua yang menggunakan feeling, masih bisa membantu. Meski akhirnya mobil menjadi enak dipakai, tetapi sudah menghabiskan waktu lebih lama. Sedangkan bila menggunakan beberapa alat seperti, tune up tester, gas analyzer bahkan intelligent tester membuat pekerjaan tune up menjadi lebih cepat dan akurat.
Ketiga tester itu sesungguhnya menjadi peralatan pokok untuk membuat kinerja mesin tetap optimal. Mobil hemat bensin selalu menunjukkan CO rendah. CO rendah merupakan salah satu indikator kinerja mesin optimal, dan itu baru bisa diketahui setelah menggunakan peralatan tes emisi gas buang yang ditempatkan pada knalpot mobil. CO yang rendah menunjukan telah terjadi pembakaran bahan bakar dan udara optimal dibanding mesin lain dengan CO lebih tinggi. Sesungguhnya kandungan CO, dua sampai tiga persen per volume sudah termasuk tinggi. Karena CO mobil berteknologi EFI (lebih kecil dari satu persen), Gasolin Direct Injection (0.5 persen/volume). Mobil Hibrida Toyota Prius lebih rendah lagi, 0.05 persen/volume.
Lalu bagaimana teknisi bisa mengetahui kadar emisi gas buang CO rendah, bila bengkel tidak dilengkapi tes meter gas buang. Bila tidak ada, urungkan Anda untuk tune up, cari bengkel lain yang memiliki peralatan lengkap. Mobil-mobil CBU yang ada di negeri ini, sudah menggunakan teknologi-teknologi seperti VVTL-I, V-tec dan berbagai sensor yang digunakan untuk meningkatkan kinerja maupun kenyamanan mobil. Alat tes emisi gas buang saja tidak cukup, harus ada intelligent-tester yang kini masih menjadi barang mewah di mata teknisi.
Solar untuk diesel
Banyak orang memilih membeli mobil berbahan bakar solar, karena harga solar separuh harga bensin premium. Meski kurang nyaman, pemilik mobil diesel bisa menghemat. Karena itu, sebagian pemilik mobil diesel kurang memperhatikan warna gas buang, meski sebetulnya warna gas buang hitam menunjukkan mesin itu boros, dan bila di-tune up mesin bisa lebih hemat dan bertenaga. Dengan mengganti saringan udara baru, kejadian itu bisa diatasi, kecuali kondisi mesin mobil sudah payah.
Ada tiga penyebab mengapa mobil boros atau hemat. Pertama pengaruh pengemudi bisa menghemat atau boros antara 10-15 persen. Kedua, kondisi mesin yang prima ditandai ujung knalpot berwarna abu-abu dan mobil melaju ringan. Ketiga, perlengkapan-perlengkapan meningkatkan kenyamanan pengemudi dan penumpang seperti power steering dan AC, langsung menambah beban pada mesin yang bisa ikut menaikkan tingkat pemakaian BBM sampai 15 persen.
Pengemudi
Perilaku mengemudi yang menjalankan mobil dengan terburu-buru, bukan saja tidak nyaman bagi penumpang tetapi juga memboroskan bahan bakar. Misalnya suka menginjak pedal gas sampai habis dan kemudian mengerem secara mendadak. Cara mengemudi seperti ini jelas makin membuat boros bahan bakar.
Belum lama berselang penulis mencoba Kijang EFI dari Semarang-Solo pp. Berangkat dari Semarang mengemudikan mobil menggunakan cara sopir angkutan umum yang mengejar setoran, sehingga RPM mesin selalu menunjukkan angka di atas 3.500. Pulangnya menggunakan cara yang lebih santai dan RPM selalu di bawah 3.500. Hasil pengetesan ini amat mengesankan. Waktu berangkat, satu liter bensin hanya untuk menempuh 7,8 km. Ketika pulang, satu liter bensin bisa mencapai 11,8 km.
Selain lebih aman dalam perjalanan, pengoperasian mobil secara santai menghasilkan penghematan bahan bakar yang lumayan.



  • READ MORE.......


  • (bid/berbagai sumber)

    for more details and updates about automotive-technology, please visit.........
    www.automotivemachine.blogspot.com




    Share on :
     
     
     

    Total Pageviews